Teruntuk si pemilik nama yang selalu kupeluk dalam doa,
Hari ini, telah kulipat semua harapan yang pernah kau bentangkan.
Aku sadar, hal hal manis yang kau berikan saat
itu ternyata hanyalah sebuah pinjaman, bukanlah sebuah kepemilikan. Begitu
banyak "tanda tanya" yang dengan bodohnya kuartikan sebagai
"tanda cinta", kau dan aku
hanyalah dua orang asing yang kebetulan saling menyamankan.
Perih rasanya mengetahui bahwa
namamu, yang setiap malam kulangitkan dengan penuh kesungguhan, kini telah
membumi bukan di hati ku, dan telah meruntuhkan menara impian yang ternyata kubangun
sendirian.
Terima kasih untuk perhatian yang
pernah membuatku merasa istimewa. kini, bersama tetesan bulir air mataku, aku
berhenti mencarimu di antara barisan doaku, meski itu berarti aku harus
tertinggal di sini dengan segala kepingan hati yang patah.
Berbahagialah .. Ku Izinkan luka
ini menjadi urusanku dengan waktu, dan biarlah namamu tetap ada di langit,
namun kini bukan lagi sebagai permohonan, melainkan sebagai sebuah pengampunan.
Aku terlalu sibuk
melangitkan namamu, sampai aku lupa bahwa bumi punya cara sendiri untuk
menjatuhkan harapanku. Selamat menempuh jalan yang bukan ke arahku. kepada takdirmu lah, Aku mengembalikanmu.
![]() |
| pic : AI |
Mengenalmu tidak pernah menyisakan sesal atau kesal, yang ada rasa Syukur karena begitu banyak hal baik yang hadir karenamu, semua akan kusimpan dalam memori dan kudekap erat dalam kenangan (L)
“AR”

